Saturday, 5 March 2011
Cerita Binatang Dalam Al Quran ( Cerbin )
12 cerita binatang dalam Al-Quran mengandung pesan tauhid, keteguhan, kesabaran, keberanian, kasih sayang, serta nilai luhur lainnya.
Cerita-cerita tersebut dapat menjadi pintu masuk yang menarik bagi anak-anak untuk mempelajari Al-Quran.
Menggunakan gaya bahasa berima: menyampaikan semangat cerita Al-Quran sekaligus semangat bahasa Al-Quran.
Disajikan melalui berbagai media, yaitu teks, gambar, musik, lagu, lisan, serta permainan. Membantu mengembangkan multiple intelligences (kecerdasan majemuk).
Connect & Experience
Beberapa pemerhati perkembangan anak menyatakan bahwa cerita berima memiliki unsur yang disebut phonological awareness, yaitu ketika suatu kata atau cerita dibacakan menghasilkan bunyi menarik dan membuat anak “connect“.
Dengan dasar itulah, Cerita Binatang Berima Dua Bahasa, I Love My Al-Quran ini disusun. Diharapkan, cerita-cerita yang disajikan dalam produk ini, selain ceritanya bisa diikuti, proses pembacaannya pun menjadi suatu experience tersendiri.
Cara Bercerita Khas Al-Quran
Cerita-cerita dalam produk ini merupakan pengembangan dari potongan ayat Al-Quran yang menuturkan tentang binatang. Ayat-ayat Al-Quran memiliki cara bercerita yang khas. Salah satunya dengan metode berima. Cerita dalam produk ini dirancang berima dengan harapan dapat memindahkan semangat bahasa Al-Quran dengan mudah.
Produk ini juga disusun sebagai alat bantu, “pintu masuk” yang menarik bagi anak-anak untuk mempelajari Al-Quran. Contohnya sebagai berikut: Setelah membaca Cerita 6, Paus, Penyelamat Nabi Yunus, interest anak akan terbangun. Saat itulah, anak merasa siap untuk mengetahui lebih jauh tentang kisah Nabi Yunus di Surah Yûnus.
Semoga produk ini bisa menjadi media untuk menyampaikan semangat cerita Al-Quran sekaligus semangat bahasa Al-Quran. Cerita-cerita ini pun bisa menjadi teman yang mengajak anak dan seluruh keluarga untuk mempelajari Al-Quran lebih mendalam.
Spesifikasi Produk Cerita Binatang dalam Al Quran
12 jilid cerita binatang dalam Al-Quran yang mengandung pesan tauhid, keteguhan, kesabaran, keberanian, kasih sayang, serta nilai luhur lainnya.
mengembangkan kecerdasan linguistik, visual, matematis, dan motorik. Anak-anak pun dapat berlatih menyusun suatu konsep melalui gambar dan bahasa tulisan.
Mengembangkan Kecerdasan Musikal Anak-anak merasakan kebahagiaan ketika mereka bergoyang, menari, bertepuk tangan, dan bernyanyi bersama seseorang yang mereka cintai dan percayai.
Momen ini bisa digunakan oleh orangtua untuk membantu pembentukan dan perkembangan mental, emosi, serta keterampilan sosial dan fisik anak dengan mendengarkan musik bersama-sama.
Untuk menciptakan momen itu, Cerita Binatang Berima Dua Bahasa, I Love My Al-Quran sengaja hadir dengan sentuhan musik dalam bentuk CD lagu serta CD audio book dan audio flash book yang berisi lagu dengan gaya bercerita dan cerita yang dituturkan dengan lisan.
Buku Panduan Orangtua :
memberi panduan saat menggunakan produk ini bagi Ayah dan Ibu dalam mendampingi putra-putrinya membaca, bermain, dan belajar. Di dalam buku ini, terdapat kamus kecil kosa kata bahasa Inggris-bahasa Indonesia.
Buku Mencocokan Gambar
Melatih Nalar anak melalui bahasa visual dan bahasa tulisan
Boneka Tangan:
Boneka tangan ini merupakan salah satu media bercerita tentang PAUS di Cerita 6, Paus penyelamat Nabi Yunus. Cerita pun menjadi lebih interaktif dan dinamis.
9 Manfaat Cerita Binatang dalam Al Quran :
1. Produk ini disajikan dengan metode bercerita sehingga memudahkan anak untuk menggali ilmu pengetahuan di dalam Al-Quran.
2. Cerita dalam produk ini dituturkan dengan menggunakan bahasa berima. Anak pun dapat mengungkapkan pikirannya secara halus, indah, dan berkesan.
3. Teks dalam cerita ini dihadirkan dengan bentuk-bentuk unik yang mampu membangun ruang imajinasi anak sehingga mereka tidak merasa bosan saat membacanya.
4. Cerita dihadirkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ada juga kosa-kata dalam dua bahasa. Anak-anak pun dapat memperkaya wawasan berbahasa.
5. Anak-anak dapat mengembangkan kecerdasan musikal dan audionya dengan mendengarkan cerita dan cerita yang dinyanyikan di dalam CD lagu serta CD audio book dan Flash audio book.
6. Produk ini dikemas dengan sentuhan gambar dan warna dalam beragam karakter ilustrasi menarik sehingga dapat mengembangkan kecerdasan visual anak.
7. Anak-anak dapat mengetahui kisah yang bersangkutan terdapat di ayat berapa di Al-Quran.
8. LIHAT JUGA! merupakan media untuk membantu anak berpikir komprehensif, yakni dengan melihat informasi lain mengenai tokoh-tokoh cerita di referensi lain.
9. Belajar memaknai Al-Quran.
Ayoo ! Buruan Order !
Dengan investasi sebesar : Rp 1.090.000,- DISKON JADI Rp 981.000,- , Anda akan mendapatkan :
12 Jilid Buku Cerita
1 Keping CD Lagu
1 Keping CD Audio Book dan Flash Audio Book
1 Flashcard dan Puzzle
1 Jilid Buku Mencocokkan Gambar
1 Boneka Tangan
1 Jilid Buku Panduan Orangtua + kamus Kosa Kata
1 Dus Gift Multifungsi
MENGAPA HARUS MEMBACA ?
Mengapa Harus Membaca ? Kegiatan membaca sangat diperlukan dalam membantu perkembangan kecerdasan anak. Kebiasaan membaca tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Selain memberikan teladan, orang tua hendaknya mengajak anak-anak untuk berinteraksi dengan buku sejak dini. Kelak, ketika memasuki dunia sekolah, mereka akan lebih siap untuk membaca buku-buku pelajaran maupun buku pengetahuan lainnya.
Keluarga menjadi faktor penting dalam membentuk kebiasaan anak. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dirumah. Sejak usia 18 tahun, anak menghabiskan rata-rata 14% dari waktu hidupnya di sekolah dan 86% di rumah.
Suatu penelitian menyebutkan bahwa rata-rata lulusan SMP telah menghabiskan waktu 15.000 jam untuk menonton TV. Bandingkan dengan waktu yang dihabiskan dikelas yang hanya 11.000 jam (nielsen index). Ternyata waktu menonton TV tersebut lebih banyak dibanding waktu untuk mencapai gelar sarjana. (james trelease). Tak heran kalau anak mudah sekali meniru tingkah laku bintang iklan atau artis karena waktu interaksinya yang lama.
Kebiasaan menonton teve kurang memberikan dampak yang baik bagi anak. Gambar-gambar tv berubah cepat sehingga otak tidak sempat memproses imagae secara baik. Sumber cahaya yang berpendar dari tv meletakan belahan otak kiri dan kanan ke dalam gelombang alpha (slow wave of inactivity) yang merusak keseimbangan dan interaksi antara belahan otak kiri dan kanan.
Hasil besaran fisik yang dipencarkan media audio visual elektronik (medan magnet dan elektrik) masih jaus dibawah ambang yangg di izinkan WHO. Intensitas kebisingan televisi berpengaruh buruk terhadap memori jangka pendek, kemampuan membaca, dan konsentrasi.
Berbeda dengan menonton yang cenderung pasif, kegiatan membaca akan mengaktivasi kemampuan berfikir dan menganalisi. Dengan membaca, membantu meningkatkan kemampuan konsentrasi anak. Membaca juga mampu menstimulasi rasa ingin tahu (kurositas) anak. Selain itu, membaca juga memberi peluang lebih luas untuk menstimulasi imajinasi
Sejak lahir manusia telah dibekali dengan otak yang super canggih. Dalam otak manusia, terdapat 100 milyar neuron, 1 trilyun sel glial, 1.000 trilyun titik sambungan sinaptik, 280 kuintiliun memori. Dari 100 miliar neuron atau sel saraf aktif masing-masing neuron itu memiliki hingga 20.000 koneksi.
Jika digunakan secara optimal, otak manusia mampu menampung informasi sebanding dengan 500 jilid ensiklopedia. Sayangnya, hanya sekitar 1% dari potensi dan kapasitas otak yang digunakan.
Sambungan saraf aktif akan mati jika tidak di rangsang dengan informasi baru. Semakin banyak dirangsang, sambungan sel saraf aktif akan terus berkembang.
Wednesday, 2 March 2011
Memahami Ungkapan Perasaan Buah Hati..
Hati-hati dijalan yah Ma.. Pa...
Itu tandanya ia tak mau pisah dari kita. Namun jika pesannya disertai embel-embel minta oleh-oleh, ia tengah menguji rasa sayang kita padanya. Tanggapi dengan positif. Ini merupakan bekal rasa percaya dirinya.
Anak batita, kata Fitriani F. Syahrul, Psi., memang lagi rajin-rajinnya mengucapkan pesan-pesan selamat jalan. Bukan cuma pada ayah-ibunya, juga orang lain yang dekat dengannya. Perilaku ini, terangnya, merupakan hasil modelling atau peniruan, baik dari orang tua maupun anggota keluarga lain yang kerap melakukannya. Misal, kala ayah hendak ke kantor, si ibu bilang, "Hati-hati di jalan, ya, Pa. Jangan lupa pulangnya bawakan kue buat anak-anak."
Namun di balik peniruan itu sebenarnya terselip rasa cemas akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya. Soalnya, terang Fitriani, "anak usia ini masih sangat membutuhkan rasa aman dan rasa aman itu diperolehnya dari orang yang dekat dengannya atau orang tua." Jadi, pesan-pesan selamat jalan yang ia sampaikan sebenarnya merupakan ungkapan perasaan anak agar kita selalu ingat kepadanya, bahwa ia selalu ingin dekat dengan kita.
BERI TANGGAPAN POSITIF
Itulah mengapa, Fitriani menekankan agar kita menanggapinya dengan positif. Misal, "Terima kasih, ya, Nak. Pasti Mama akan hati-hati dan akan pulang lagi nanti sore," atau, "Papa perginya enggak lama, kok. Nanti sore juga pulang. Adek baik-baik di rumah, ya." Kemudian, kita bisa beri ia pelukan atau ciuman.
Tentunya kita pun harus memberi penjelasan pada si kecil kenapa kita harus meninggalkannya. Misal, "Ibu sekarang mau ke kantor dulu. Kan, Ibu harus kerja supaya bisa beli mainan buat Adek." Dengan begitu, ia jadi merasa lebih tenteram karena ia tahu kita pergi bukan untuk meninggalkannya, melainkan harus bekerja; ia merasa disayangi.
Sebaliknya, bila kita cuma mengucapkan, "Ya," sambil berlalu atau malah diam saja dan langsung pergi, "anak jadi bingung dan akan selalu bertanya-tanya dalam hatinya, 'Sebenarnya Mama sayang enggak, sih, sama aku?' Anak-anak, kan, masih simpel pemikirannya. Yang ia tahu hanya sayang atau tidak sayang."
Lagi pula, Bu-Pak, dengan kita berespon positif, si kecil bisa menjalani harinya dengan baik karena tak ada lagi yang perlu ia cemaskan. "Anak-anak itu, kan, kalau waktu pagi mood-nya sudah jelek, maka sepanjang hari itu akan jelek terus. Tapi jika awalnya sudah baik, selanjutnya ia akan melewati hari itu dengan riang gembira."
Namun yang lebih penting dari itu, tambah Fitriani, tanggapan positif dari kita sebetulnya merupakan cikal bakal terbentuknya rasa percaya diri anak. Bukankah salah satu unsur dominan dari percaya diri adalah rasa aman?
Manfaat lain, secara tak sadar kita juga tengah mengasah kemampuan berbicara si kecil. Bukankah si kecil akan balik memberi respon pula? Misal, kala kita berkata, "Terima kasih, ya, Bunda sudah diingatkan. Bunda sayang sama Adek." Si kecil pun akan membalas, "Iya, Adek juga sayang Bunda."
MENGUJI RASA SAYANG
Begitupun jika si kecil minta oleh-oleh, kita harus menanggapinya dengan positif pula semisal, "Iya, deh, nanti bawakan cokelat." Menurut Fitriani, enggak ada salahnya, kok, bila kita sesekali membawakan oleh-oleh yang diminta si kecil.
Soalnya, terang psikolog pada Yayasan Lentera Zaman ini, anak yang kerap mengucapkan pesan selamat jalan sambil minta oleh-oleh, bisa jadi tengah menguji rasa sayang orang tuanya. "Biasanya anak, kan, akan merasa disayang bila kita memberikan apa yang ia minta. Sebaliknya, kalau tak diberi, pasti ia akan merasa tak disayang lagi."
Namun, jika barang atau sesuatu yang kita janjikan itu ternyata tak terjangkau oleh keuangan kita, "ya, jangan memaksakan diri, dong." Maksudnya, kita tetap membelikan barang serupa tapi dengan harga lebih murah. Jangan kita malah tak membelinya sama sekali. Ingat, kita sudah janji pada si kecil dan janji harus ditepati.
Lain hal jika oleh suatu sebab kita lupa akan terjanji tersebut, kita harus segera minta maaf begitu tiba di rumah. Katakan, misal, "Nak, maaf, ya, tadi Ayah sibuk sekali sampai lupa akan janji Ayah untuk membawakan cokelat buat Adek." Kalau tidak, si kecil bisa sakit hati, lo. Yang lebih parah, ia tak percaya lagi pada kita. Apalagi jika sampai terjadi berulang kali, "akhirnya ia takkan percaya lagi pada lingkungan sekitarnya." Celaka, kan?
BUAT JADWAL
Bukan berarti kita harus selalu memenuhi permintaan oleh-oleh si kecil, lo. Terlebih bila keuangan kita memang tak memungkinkan untuk kita melakukannya. Si kecil harus dikasih pengertian, "Nak, sekarang Bunda lagi enggak punya uang. Jadi, Bunda enggak bisa beliin mobil-mobilan yang Adek minta. Nanti, deh, kalau Bunda sudah punya uang, kita sama-sama pergi membelinya, ya."
Justru kalau selalu dituruti, dampaknya buruk buat si kecil. "Ia jadi tergantung dalam arti ia akan menganggap kita sayang dan peduli kepadanya jika membawakan apa yang ia minta," terang Fitriani.
Selain itu, si kecil pun jadi manja dan tak pernah belajar menunda keinginan. Akhirnya nanti ia tak dapat menerima jika tak bisa memperoleh apa yang ia inginkan. "Ia akan marah atau sakit hati hanya gara-gara keinginannya tak dapat terwujud." Dalam bahasa lain, ia tak bisa menerima kenyataan. Hati-hati, lo, ini bisa terbawa sampai dewasa.
Jadi, Bu-Pak, sekalipun kita mampu memberikan apa yang ia minta, tapi kita tetap harus melatihnya untuk belajar bahwa tak semua keinginannya harus selalu dipenuhi. Caranya, beri pengertian. Misal, "Nak, bukan berarti Bunda enggak sayang sama Adek kalau Bunda enggak bawakan oleh-oleh. Kan, kemarin, Bunda sudah bawakan mobil-mobilan yang Adek pesan. Sekarang cium saja, ya."
Cara lain, jadwalkan waktu pemberian oleh-oleh. Misal, seminggu sekali. Tapi itu pun harus dilakukan secara random, lo. Misal, minggu ini ia diberi oleh-oleh pada hari Sabtu, minggu depannya Rabu, minggu depannya lagi Jumat, dan seterusnya. Soalnya, kalau enggak di-random, jelas Fitriani, lama-lama si kecil akan tahu bahwa ia pasti akan dibelikan atau dikasih oleh-oleh pada hari Sabtu, misal. Akibatnya, ketika tiba hari Sabtu, ia langsung menuntut minta dibawakan oleh-oleh. Celaka, kan?
TETAP DIPELIHARA
Jika pada suatu hari si kecil tak lagi mengucapkan pesan-pesan selamat jalan, jangan kaget atau bingung, ya, Bu-Pak. Hal ini wajar saja. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, gradasinya memang akan menurun. Soalnya, terang Fitriani, si kecil lama-kelamaan akan mengerti bahwa ayah-ibunya pergi tiap pagi untuk bekerja, bukan ingin meninggalkannya.
Disamping, "anak mulai punya kebutuhan lain seperti belajar dan bermain." Hal ini disebabkan, secara psikologis, anak telah memiliki bekal rasa aman atau rasa aman itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Hingga, tak ada lagi rasa cemas akan perpisahan dan perkembangannya pun berjalan wajar.
Namun begitu, ingat Fitriani, pesan selamat jalan harus tetap dipelihara. "Kalau sampai hilang sama sekali, ya, enggak baik juga, dong. Misal, saat kita mau berangkat ke kantor, anak cuek saja." Jadi, kita tetap perlu membiasakan si kecil untuk mengucapkan pesan selamat jalan. Tentu kita pun harus melakukannya juga. Bukankah orang tua adalah contoh buat anak?
JANGAN HINDARI SI KECIL
Banyak, lo, orang tua yang malah menghindari anaknya kala hendak meninggalkan rumah. Alasannya, takut si kecil menangis. Hingga, kala harus pergi ke kantor, misal, dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jangan sampai anaknya melihat. Padahal, cara ini sungguh keliru. "Perlakuan orang tua yang demikian hanya akan membuat anak tak percaya lagi dengan lingkungannya," jelas Fitriani.
Awalnya, si kecil masih percaya ketika kita bilang mau ke kamar mandi, misal. Namun lama-lama si kecil pun akan sadar, "Kok, ke kamar mandinya lama sekali, ya?" Nah, setelah itu ia pasti akan mencari-cari hingga ia pun jadi meragukan dirinya sendiri, "Apa benar yang aku dengar tadi kalau Ibu mau ke kamar mandi?" Akhirnya, ia pun sadar kalau dibohongi.
Jadi, Bu-Pak, meski pesan selamat jalan yang diberikan si kecil berupa tangisan, kita tetap tak boleh menghindarinya. Justru kita harus memberinya pengertian, misal, "Adek jangan nangis gitu, dong. Kan, Bunda cuma mau pergi ke kantor. Nanti sore juga Bunda pulang lagi, kok."
Itu tandanya ia tak mau pisah dari kita. Namun jika pesannya disertai embel-embel minta oleh-oleh, ia tengah menguji rasa sayang kita padanya. Tanggapi dengan positif. Ini merupakan bekal rasa percaya dirinya.
Anak batita, kata Fitriani F. Syahrul, Psi., memang lagi rajin-rajinnya mengucapkan pesan-pesan selamat jalan. Bukan cuma pada ayah-ibunya, juga orang lain yang dekat dengannya. Perilaku ini, terangnya, merupakan hasil modelling atau peniruan, baik dari orang tua maupun anggota keluarga lain yang kerap melakukannya. Misal, kala ayah hendak ke kantor, si ibu bilang, "Hati-hati di jalan, ya, Pa. Jangan lupa pulangnya bawakan kue buat anak-anak."
Namun di balik peniruan itu sebenarnya terselip rasa cemas akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya. Soalnya, terang Fitriani, "anak usia ini masih sangat membutuhkan rasa aman dan rasa aman itu diperolehnya dari orang yang dekat dengannya atau orang tua." Jadi, pesan-pesan selamat jalan yang ia sampaikan sebenarnya merupakan ungkapan perasaan anak agar kita selalu ingat kepadanya, bahwa ia selalu ingin dekat dengan kita.
BERI TANGGAPAN POSITIF
Itulah mengapa, Fitriani menekankan agar kita menanggapinya dengan positif. Misal, "Terima kasih, ya, Nak. Pasti Mama akan hati-hati dan akan pulang lagi nanti sore," atau, "Papa perginya enggak lama, kok. Nanti sore juga pulang. Adek baik-baik di rumah, ya." Kemudian, kita bisa beri ia pelukan atau ciuman.
Tentunya kita pun harus memberi penjelasan pada si kecil kenapa kita harus meninggalkannya. Misal, "Ibu sekarang mau ke kantor dulu. Kan, Ibu harus kerja supaya bisa beli mainan buat Adek." Dengan begitu, ia jadi merasa lebih tenteram karena ia tahu kita pergi bukan untuk meninggalkannya, melainkan harus bekerja; ia merasa disayangi.
Sebaliknya, bila kita cuma mengucapkan, "Ya," sambil berlalu atau malah diam saja dan langsung pergi, "anak jadi bingung dan akan selalu bertanya-tanya dalam hatinya, 'Sebenarnya Mama sayang enggak, sih, sama aku?' Anak-anak, kan, masih simpel pemikirannya. Yang ia tahu hanya sayang atau tidak sayang."
Lagi pula, Bu-Pak, dengan kita berespon positif, si kecil bisa menjalani harinya dengan baik karena tak ada lagi yang perlu ia cemaskan. "Anak-anak itu, kan, kalau waktu pagi mood-nya sudah jelek, maka sepanjang hari itu akan jelek terus. Tapi jika awalnya sudah baik, selanjutnya ia akan melewati hari itu dengan riang gembira."
Namun yang lebih penting dari itu, tambah Fitriani, tanggapan positif dari kita sebetulnya merupakan cikal bakal terbentuknya rasa percaya diri anak. Bukankah salah satu unsur dominan dari percaya diri adalah rasa aman?
Manfaat lain, secara tak sadar kita juga tengah mengasah kemampuan berbicara si kecil. Bukankah si kecil akan balik memberi respon pula? Misal, kala kita berkata, "Terima kasih, ya, Bunda sudah diingatkan. Bunda sayang sama Adek." Si kecil pun akan membalas, "Iya, Adek juga sayang Bunda."
MENGUJI RASA SAYANG
Begitupun jika si kecil minta oleh-oleh, kita harus menanggapinya dengan positif pula semisal, "Iya, deh, nanti bawakan cokelat." Menurut Fitriani, enggak ada salahnya, kok, bila kita sesekali membawakan oleh-oleh yang diminta si kecil.
Soalnya, terang psikolog pada Yayasan Lentera Zaman ini, anak yang kerap mengucapkan pesan selamat jalan sambil minta oleh-oleh, bisa jadi tengah menguji rasa sayang orang tuanya. "Biasanya anak, kan, akan merasa disayang bila kita memberikan apa yang ia minta. Sebaliknya, kalau tak diberi, pasti ia akan merasa tak disayang lagi."
Namun, jika barang atau sesuatu yang kita janjikan itu ternyata tak terjangkau oleh keuangan kita, "ya, jangan memaksakan diri, dong." Maksudnya, kita tetap membelikan barang serupa tapi dengan harga lebih murah. Jangan kita malah tak membelinya sama sekali. Ingat, kita sudah janji pada si kecil dan janji harus ditepati.
Lain hal jika oleh suatu sebab kita lupa akan terjanji tersebut, kita harus segera minta maaf begitu tiba di rumah. Katakan, misal, "Nak, maaf, ya, tadi Ayah sibuk sekali sampai lupa akan janji Ayah untuk membawakan cokelat buat Adek." Kalau tidak, si kecil bisa sakit hati, lo. Yang lebih parah, ia tak percaya lagi pada kita. Apalagi jika sampai terjadi berulang kali, "akhirnya ia takkan percaya lagi pada lingkungan sekitarnya." Celaka, kan?
BUAT JADWAL
Bukan berarti kita harus selalu memenuhi permintaan oleh-oleh si kecil, lo. Terlebih bila keuangan kita memang tak memungkinkan untuk kita melakukannya. Si kecil harus dikasih pengertian, "Nak, sekarang Bunda lagi enggak punya uang. Jadi, Bunda enggak bisa beliin mobil-mobilan yang Adek minta. Nanti, deh, kalau Bunda sudah punya uang, kita sama-sama pergi membelinya, ya."
Justru kalau selalu dituruti, dampaknya buruk buat si kecil. "Ia jadi tergantung dalam arti ia akan menganggap kita sayang dan peduli kepadanya jika membawakan apa yang ia minta," terang Fitriani.
Selain itu, si kecil pun jadi manja dan tak pernah belajar menunda keinginan. Akhirnya nanti ia tak dapat menerima jika tak bisa memperoleh apa yang ia inginkan. "Ia akan marah atau sakit hati hanya gara-gara keinginannya tak dapat terwujud." Dalam bahasa lain, ia tak bisa menerima kenyataan. Hati-hati, lo, ini bisa terbawa sampai dewasa.
Jadi, Bu-Pak, sekalipun kita mampu memberikan apa yang ia minta, tapi kita tetap harus melatihnya untuk belajar bahwa tak semua keinginannya harus selalu dipenuhi. Caranya, beri pengertian. Misal, "Nak, bukan berarti Bunda enggak sayang sama Adek kalau Bunda enggak bawakan oleh-oleh. Kan, kemarin, Bunda sudah bawakan mobil-mobilan yang Adek pesan. Sekarang cium saja, ya."
Cara lain, jadwalkan waktu pemberian oleh-oleh. Misal, seminggu sekali. Tapi itu pun harus dilakukan secara random, lo. Misal, minggu ini ia diberi oleh-oleh pada hari Sabtu, minggu depannya Rabu, minggu depannya lagi Jumat, dan seterusnya. Soalnya, kalau enggak di-random, jelas Fitriani, lama-lama si kecil akan tahu bahwa ia pasti akan dibelikan atau dikasih oleh-oleh pada hari Sabtu, misal. Akibatnya, ketika tiba hari Sabtu, ia langsung menuntut minta dibawakan oleh-oleh. Celaka, kan?
TETAP DIPELIHARA
Jika pada suatu hari si kecil tak lagi mengucapkan pesan-pesan selamat jalan, jangan kaget atau bingung, ya, Bu-Pak. Hal ini wajar saja. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, gradasinya memang akan menurun. Soalnya, terang Fitriani, si kecil lama-kelamaan akan mengerti bahwa ayah-ibunya pergi tiap pagi untuk bekerja, bukan ingin meninggalkannya.
Disamping, "anak mulai punya kebutuhan lain seperti belajar dan bermain." Hal ini disebabkan, secara psikologis, anak telah memiliki bekal rasa aman atau rasa aman itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Hingga, tak ada lagi rasa cemas akan perpisahan dan perkembangannya pun berjalan wajar.
Namun begitu, ingat Fitriani, pesan selamat jalan harus tetap dipelihara. "Kalau sampai hilang sama sekali, ya, enggak baik juga, dong. Misal, saat kita mau berangkat ke kantor, anak cuek saja." Jadi, kita tetap perlu membiasakan si kecil untuk mengucapkan pesan selamat jalan. Tentu kita pun harus melakukannya juga. Bukankah orang tua adalah contoh buat anak?
JANGAN HINDARI SI KECIL
Banyak, lo, orang tua yang malah menghindari anaknya kala hendak meninggalkan rumah. Alasannya, takut si kecil menangis. Hingga, kala harus pergi ke kantor, misal, dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jangan sampai anaknya melihat. Padahal, cara ini sungguh keliru. "Perlakuan orang tua yang demikian hanya akan membuat anak tak percaya lagi dengan lingkungannya," jelas Fitriani.
Awalnya, si kecil masih percaya ketika kita bilang mau ke kamar mandi, misal. Namun lama-lama si kecil pun akan sadar, "Kok, ke kamar mandinya lama sekali, ya?" Nah, setelah itu ia pasti akan mencari-cari hingga ia pun jadi meragukan dirinya sendiri, "Apa benar yang aku dengar tadi kalau Ibu mau ke kamar mandi?" Akhirnya, ia pun sadar kalau dibohongi.
Jadi, Bu-Pak, meski pesan selamat jalan yang diberikan si kecil berupa tangisan, kita tetap tak boleh menghindarinya. Justru kita harus memberinya pengertian, misal, "Adek jangan nangis gitu, dong. Kan, Bunda cuma mau pergi ke kantor. Nanti sore juga Bunda pulang lagi, kok."
Menyiasati Anak Yang Sulit Makan..
Ibu :"A lagi ya, satu lagi aaanya, yah satu lagi yah"
Anak :"Nggak mau, udah kenyang"
Ibu :"Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya, tinggal sedikit kan. Satu lagi yaaaaa"
Anak :"Nggak mau ah, udah kenyaaaaaaaaaaaang"
Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat familiar di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti hamburger, fried chicken, french fries), dan makanan yang tasty (misalnya chiky, cheetos) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.
Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?
Komponen Utama Sumber Energi
Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.
Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).
Bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.
Mengapa Anak Menolak Makan?
Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dari orangtua agar anak jangan sampai kekurangan gizi akibat tidak mau makan.
Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan:
Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar
Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua
Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut
Menu tidak bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk makanan tidak menarik
Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman
Anak sedang sakit
Sementara itu, bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa:
Memuntahkan makanan
Makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.
Sama sekali tidak mau makan
Menumpahkan makanan
Menepis suapan dari orangtua
Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua
Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya:
Membujuk. Misalnya dengan kata-kata: "makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti popeye", "kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa pintar loh", dll.
Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main
Memberi janji, misalnya: "kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream"
Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh"
Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan
Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar
Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.
Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua
Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.
Lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membuat anak mau makan dan tidak kekurangan sumber energi yang dibutuhkan tubuhnya?
Berikut ini beberapa saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak yang sulit makan:
1. Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan. Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga tidak terjadi obesitas.
2. Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.
3. Mempercantik tampilan makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.
4. Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa "anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru".
5. Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
6. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
7. Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
8. Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
9. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
10. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut). Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan
Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat. Tulisan ini mungkin dapat menjadi suatu informasi yang berguna bagi anda para orangtua yang peduli terhadap kesejahteraan anaknya. Selamat mencoba.
Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
Anak :"Nggak mau, udah kenyang"
Ibu :"Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya, tinggal sedikit kan. Satu lagi yaaaaa"
Anak :"Nggak mau ah, udah kenyaaaaaaaaaaaang"
Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat familiar di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti hamburger, fried chicken, french fries), dan makanan yang tasty (misalnya chiky, cheetos) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.
Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?
Komponen Utama Sumber Energi
Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.
Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).
Bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.
Mengapa Anak Menolak Makan?
Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dari orangtua agar anak jangan sampai kekurangan gizi akibat tidak mau makan.
Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan:
Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar
Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua
Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut
Menu tidak bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk makanan tidak menarik
Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman
Anak sedang sakit
Sementara itu, bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa:
Memuntahkan makanan
Makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.
Sama sekali tidak mau makan
Menumpahkan makanan
Menepis suapan dari orangtua
Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua
Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya:
Membujuk. Misalnya dengan kata-kata: "makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti popeye", "kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa pintar loh", dll.
Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main
Memberi janji, misalnya: "kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream"
Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh"
Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan
Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar
Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.
Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua
Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.
Lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membuat anak mau makan dan tidak kekurangan sumber energi yang dibutuhkan tubuhnya?
Berikut ini beberapa saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak yang sulit makan:
1. Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan. Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga tidak terjadi obesitas.
2. Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.
3. Mempercantik tampilan makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.
4. Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa "anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru".
5. Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
6. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
7. Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
8. Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
9. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
10. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut). Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan
Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat. Tulisan ini mungkin dapat menjadi suatu informasi yang berguna bagi anda para orangtua yang peduli terhadap kesejahteraan anaknya. Selamat mencoba.
Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
Monday, 14 February 2011
Bikin Karikatur Yuk...
Assalamualaikum wr. wb
Ayah bunda, umi abi satu lagi yang baru dari Buku Anak & Balita , kami memfasilitasi ayah bunda yang ingin mengafirmasi buah hati untuk mencoba mewujudkan mimpi dimasa depan. Kami menyediakan layanan pembuatan karikatur afirmasi yang sangat cocok sebagai hadiah ulang tahun maupun cendramata yang special bagi buah hati tercinta.
contoh desain karikatur :
Adapun kami mengusung beberapa tema afirmasi seperti :
- Aku Seorang Pilot
- Aku Seorang Dokter
- Aku Seorang Guru
- Aku Seorang Entertaint
- Aku Seorang Arsitek
Caranya sangat mudah :
ke nomor rekening BSM no. Rek 066 701 9958 an. Rini
Mohon konfirmasi ulang apabila sudah melakukan transfer dengan sms ke no 0813 2226 3085 atau via email agar kami dapat segera mengirimkan desain Coupple Karikatur yg asli ke email ayah bunda.
tertarik bikin karikaturnya??? pesen sekarang yuk... btw kita juga menerima pembuatan karikatur untuk ayah bunda juga loh ( untuk semua umur ).
Ayah bunda, umi abi satu lagi yang baru dari Buku Anak & Balita , kami memfasilitasi ayah bunda yang ingin mengafirmasi buah hati untuk mencoba mewujudkan mimpi dimasa depan. Kami menyediakan layanan pembuatan karikatur afirmasi yang sangat cocok sebagai hadiah ulang tahun maupun cendramata yang special bagi buah hati tercinta.
contoh desain karikatur :
Adapun kami mengusung beberapa tema afirmasi seperti :
- Aku Seorang Pilot
- Aku Seorang Dokter
- Aku Seorang Guru
- Aku Seorang Entertaint
- Aku Seorang Arsitek
Caranya sangat mudah :
- Kirimkan photo close up dan biodata buah hati anda dengan lengkap ( nama, tgl lahir, afirmasi dimasa depan, email ayah bunda, dan no telp yg dpt dihubungi ) ke email : rynee_03@yahoo.com
- Data yang kami terima akan kami proses maksimal 3 hari. Selanjutnya kami akan mengirimkan sample karikatur yang sudah selesai ke alamat email ayah bunda untuk proses verifikasi.
ke nomor rekening BSM no. Rek 066 701 9958 an. Rini
Mohon konfirmasi ulang apabila sudah melakukan transfer dengan sms ke no 0813 2226 3085 atau via email agar kami dapat segera mengirimkan desain Coupple Karikatur yg asli ke email ayah bunda.
tertarik bikin karikaturnya??? pesen sekarang yuk... btw kita juga menerima pembuatan karikatur untuk ayah bunda juga loh ( untuk semua umur ).
Friday, 11 February 2011
Jujurlah, Apa yang kau ajarkan untuk anak-anak kita…..
Sejauh-jauh kaki melangkah, umur kita akan berakhir juga. Kelak, di suatu waktu yang kita tak pernah tahu kapan datangnya, Allah Ta’ala akan mengirimkan utusan-Nya untuk menemui kita dan mengantarkan ruh kita ke hadapan-Nya. Akan ada tangis dan rasa kehilangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan, meski tangis itu mungkin tertahan di dalam dada. Akan ada doa-doa yang diucapkan sebagai ungkapan cinta yang begitu besar, meski sebesar-besarnya cinta mereka tak akan mau menemani kita dalam kubur.
Maka ketika itu, segala bentuk penghormatan tak berguna lagi. Hanya tiga yang masih bisa kita harapkan selain amal-amal yang sudah selesai pencatatannya: ilmu yang manfaat, amal jariyah, dan anak-anak shalih yang mendoakan.
Kalau hari ini kita berharap mereka menjadi orang-orang hebat, punya gelar yang berderet-deret panjang, memiliki catatan prestasi yang tinggi, dan di waktu sekolah mereka selalu menjadi bintang kelas, maka itu semua tak lagi kita butuhkan ketika malaikat Allah lainnya datang bertamu kepada kita untuk memeriksa amal-amal kita.
Tepuk tangan tak lagi indah untuk dikenang jika ia hampa dari kebaikan. Prestasi menakjubkan tak lagi membahagiakan jika tak disertai dengan keimanan. Bahkan doa-doa yang mereka panjatkan, tak ada artinya bagi kita jika tak disertai keshalihan. Bukankah doa-doa mereka hanya akan berguna apabila dipanjatkan dengan jiwa yang penuh keshalihan? Waladun shaalihun yad’ulah bermakna keshalihan yang diiringi dengan kesediaan untuk mendoakan orangtuanya.
Tak ada gunanya mereka berdoa untuk kita bila pada diri mereka tak ada keshalihan, sebab shalih dulu baru doa. Andaikata anak-anak kita hidupnya penuh keshalihan, itu sudah cukup untuk mengantarkan kita pada kemuliaan di akhirat. Sebab setiap kali mereka melakukan ibadah dan amal shalih, selalu ada kebaikan yang tercatat untuk kita. Bukankah kita yang mengajarkan kebaikan pada mereka? Dan bukankah kalau kita mengajarkan kebaikan, lalu orang mengikutinya, maka bagi kita pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya?
Wallahu a’lam bishawab.
Teringatlah saya dengan firman Allah ‘Azza wa ta’ala,
“Surga’Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang shalih di antara orangtua mereka, isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke ternvat-tempat mereka dari semua pintu.” (Ar-Ra’du: 23).
Lihatlah! Allah sudah ciptakan surga ‘Adn untuk kita dan anak-anak kita. Sudah Ia ciptakan pula malaikat-malaikat yang akan masuk dari semua pintu untuk melayani segala yang kita mau. Sudah Ia ciptakan semua itu untuk kita dan anak-anak kita yang shalih. Tetapi sudah shalihkah kita sehingga berani berharap anak-anak yang shalih? Rasanya masih jauh. Maka kalau tanpa pertolongan Allah, apakah yang bisa kita harapkan dari dunia ini, sementara televisi selalu mengajak kita untuk lupa? Bahkan tayangan-tayangan yang disebut religius pun, yang mereka mempersaksikan isinya kepada Allah, lebih banyak yang meruntuhkan iman daripada yang membaguskannya.
Ah, diam-diam saya teringat dengan firman Allah ketika memperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi w sallam:
“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menakjubkan hatimu, dan dipersaksikanmjt kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia aMA penentang yang paling keras.” (Al-Baqarah: 204).
Berhentilah berharap dari apa yang tidak kita upayakan. Berhentilah bermimpi tentang televisi yang bergizi untuk kesempurnaan ruhiyah anak-anak kita, kecuali jika engkau berbuat yang nyata. Kelak kita tak bisa mengajukan alasan kepada Allah di Yaumil-Hisab apabila anak kita tergerogoti imannya dan rapuh jiwanya gara-gara televisi.
Tetapi apakah yang bisa kita andalkan selain mengharap pertolongan Allah, jika tanpa melihat pun tayangannya akan mempengaruhi anak kita secara diam-diam? Maka, apabila sekali waktu dadamu terasa sesak mendengar perkataan yang tidak layak dari anak-anak, mohonkanlah kepada Tuhanmu dengan jiwa yang menangis. Mohonkanlah dengan sungguh-sungguh, semoga setiap letih dan sedihmu akan mengantar mereka pada kemuliaan. Sesungguhnya di bawah telapak kakimu, wahai para ibu, ada surga anak-anakmu. Dan pada ruang batinmu, terletak keselamatan mereka di dunia hingga akhirat.
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Jika yang ada di ruang batinmu adalah dunia, maka ketika mengajarkan agama pun, dunia yang sampai pada mereka. Kita ajarkan berdoa pada mereka, tetapi yang mereka harap dari doa itu adalah dunia. Mereka rajin berpuasa Senin dan Kamis, tetapi mereka menahan lapar bukan karena mencintai sunnah Nabi, melainkan agar hajat-hajatnya pada dunia tercapai dan harapannya terkabul.
Sebaliknya jika yang ada di ruang batinmu adalah harapan pada kehidupan yang kekal di kampung akhirat, insya Allah kemana pun mereka berjalan, di situlah mereka menghadapkan wajahnya kepada Allah. Inilah yang akan mengawal mereka, mengawasi perbuatannya, dan menjaga tindakannya. Dan inilah sebaik-baik pengawasan, sebab ia tidak mempersyaratkan hadirnya kita setiap saat. Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayu-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.
Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan, jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka ikhlaskanlah kerepotan itu. Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari kiamat, setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafa’at.
Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuknya, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ‘Azza wa Jalla.
Kalau setiap kali ada yang engkau inginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta. Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mere¬ka tidak menghiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang dise-but dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menak-jubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.
Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insya Allah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang yang penuh semangat. Kecerdasan mereka akan melejit; berkembang pesat dan bakatnya akan tumbuh dengan baik. Kalau saya boleh menengok teori kecerdasan majemuk, ada kecerdasan yang apabila berkembang akan merangsang kecerdasan lain untuk berkembang lebih pesat. Sementara pada anak-anak yang usianya telah tidak memungkinkan lagi mengembangkan kecerdasan, maka potensi kecerdasan yang ada akan melejit secara lebih optimal. Nah, kecerdasan yang dapat merangsang jenis-jenis kecerdasan lain itu adalah kecerdasan eksistensial. Intinya pada kepekaan untuk merasakan, menghayati dan memahami tujuan hidup di atas pijakan keyakinan terhadap Tuhan.
Tanamkan juga pada diri mereka kesadaran untuk belajar menemukan fardhu kifayah di luar shalat jenazah yang menyangkut kepentingan ummat ini, insya Allah yang demikian ini akan mengasah kepekaannya terhadap tanggung jawab. Setiap saat ia belajar berpikir apa yang bisa dan sebaiknya dikerjakan bagi umat ini, sehingga membuat potensinya terasah dan kreativitasnya berkembang. InsyaAllah.
Demikianlah. Setelah Allah berikan dunia kepada kita, maka apalagikah yang kita harapkan kecuali akhirat?*
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi November 2005
Maka ketika itu, segala bentuk penghormatan tak berguna lagi. Hanya tiga yang masih bisa kita harapkan selain amal-amal yang sudah selesai pencatatannya: ilmu yang manfaat, amal jariyah, dan anak-anak shalih yang mendoakan.
Kalau hari ini kita berharap mereka menjadi orang-orang hebat, punya gelar yang berderet-deret panjang, memiliki catatan prestasi yang tinggi, dan di waktu sekolah mereka selalu menjadi bintang kelas, maka itu semua tak lagi kita butuhkan ketika malaikat Allah lainnya datang bertamu kepada kita untuk memeriksa amal-amal kita.
Tepuk tangan tak lagi indah untuk dikenang jika ia hampa dari kebaikan. Prestasi menakjubkan tak lagi membahagiakan jika tak disertai dengan keimanan. Bahkan doa-doa yang mereka panjatkan, tak ada artinya bagi kita jika tak disertai keshalihan. Bukankah doa-doa mereka hanya akan berguna apabila dipanjatkan dengan jiwa yang penuh keshalihan? Waladun shaalihun yad’ulah bermakna keshalihan yang diiringi dengan kesediaan untuk mendoakan orangtuanya.
Tak ada gunanya mereka berdoa untuk kita bila pada diri mereka tak ada keshalihan, sebab shalih dulu baru doa. Andaikata anak-anak kita hidupnya penuh keshalihan, itu sudah cukup untuk mengantarkan kita pada kemuliaan di akhirat. Sebab setiap kali mereka melakukan ibadah dan amal shalih, selalu ada kebaikan yang tercatat untuk kita. Bukankah kita yang mengajarkan kebaikan pada mereka? Dan bukankah kalau kita mengajarkan kebaikan, lalu orang mengikutinya, maka bagi kita pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya?
Wallahu a’lam bishawab.
Teringatlah saya dengan firman Allah ‘Azza wa ta’ala,
“Surga’Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang shalih di antara orangtua mereka, isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke ternvat-tempat mereka dari semua pintu.” (Ar-Ra’du: 23).
Lihatlah! Allah sudah ciptakan surga ‘Adn untuk kita dan anak-anak kita. Sudah Ia ciptakan pula malaikat-malaikat yang akan masuk dari semua pintu untuk melayani segala yang kita mau. Sudah Ia ciptakan semua itu untuk kita dan anak-anak kita yang shalih. Tetapi sudah shalihkah kita sehingga berani berharap anak-anak yang shalih? Rasanya masih jauh. Maka kalau tanpa pertolongan Allah, apakah yang bisa kita harapkan dari dunia ini, sementara televisi selalu mengajak kita untuk lupa? Bahkan tayangan-tayangan yang disebut religius pun, yang mereka mempersaksikan isinya kepada Allah, lebih banyak yang meruntuhkan iman daripada yang membaguskannya.
Ah, diam-diam saya teringat dengan firman Allah ketika memperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi w sallam:
“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menakjubkan hatimu, dan dipersaksikanmjt kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia aMA penentang yang paling keras.” (Al-Baqarah: 204).
Berhentilah berharap dari apa yang tidak kita upayakan. Berhentilah bermimpi tentang televisi yang bergizi untuk kesempurnaan ruhiyah anak-anak kita, kecuali jika engkau berbuat yang nyata. Kelak kita tak bisa mengajukan alasan kepada Allah di Yaumil-Hisab apabila anak kita tergerogoti imannya dan rapuh jiwanya gara-gara televisi.
Tetapi apakah yang bisa kita andalkan selain mengharap pertolongan Allah, jika tanpa melihat pun tayangannya akan mempengaruhi anak kita secara diam-diam? Maka, apabila sekali waktu dadamu terasa sesak mendengar perkataan yang tidak layak dari anak-anak, mohonkanlah kepada Tuhanmu dengan jiwa yang menangis. Mohonkanlah dengan sungguh-sungguh, semoga setiap letih dan sedihmu akan mengantar mereka pada kemuliaan. Sesungguhnya di bawah telapak kakimu, wahai para ibu, ada surga anak-anakmu. Dan pada ruang batinmu, terletak keselamatan mereka di dunia hingga akhirat.
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Jika yang ada di ruang batinmu adalah dunia, maka ketika mengajarkan agama pun, dunia yang sampai pada mereka. Kita ajarkan berdoa pada mereka, tetapi yang mereka harap dari doa itu adalah dunia. Mereka rajin berpuasa Senin dan Kamis, tetapi mereka menahan lapar bukan karena mencintai sunnah Nabi, melainkan agar hajat-hajatnya pada dunia tercapai dan harapannya terkabul.
Sebaliknya jika yang ada di ruang batinmu adalah harapan pada kehidupan yang kekal di kampung akhirat, insya Allah kemana pun mereka berjalan, di situlah mereka menghadapkan wajahnya kepada Allah. Inilah yang akan mengawal mereka, mengawasi perbuatannya, dan menjaga tindakannya. Dan inilah sebaik-baik pengawasan, sebab ia tidak mempersyaratkan hadirnya kita setiap saat. Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayu-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.
Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan, jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka ikhlaskanlah kerepotan itu. Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari kiamat, setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafa’at.
Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuknya, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ‘Azza wa Jalla.
Kalau setiap kali ada yang engkau inginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta. Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mere¬ka tidak menghiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang dise-but dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menak-jubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.
Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insya Allah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang yang penuh semangat. Kecerdasan mereka akan melejit; berkembang pesat dan bakatnya akan tumbuh dengan baik. Kalau saya boleh menengok teori kecerdasan majemuk, ada kecerdasan yang apabila berkembang akan merangsang kecerdasan lain untuk berkembang lebih pesat. Sementara pada anak-anak yang usianya telah tidak memungkinkan lagi mengembangkan kecerdasan, maka potensi kecerdasan yang ada akan melejit secara lebih optimal. Nah, kecerdasan yang dapat merangsang jenis-jenis kecerdasan lain itu adalah kecerdasan eksistensial. Intinya pada kepekaan untuk merasakan, menghayati dan memahami tujuan hidup di atas pijakan keyakinan terhadap Tuhan.
Tanamkan juga pada diri mereka kesadaran untuk belajar menemukan fardhu kifayah di luar shalat jenazah yang menyangkut kepentingan ummat ini, insya Allah yang demikian ini akan mengasah kepekaannya terhadap tanggung jawab. Setiap saat ia belajar berpikir apa yang bisa dan sebaiknya dikerjakan bagi umat ini, sehingga membuat potensinya terasah dan kreativitasnya berkembang. InsyaAllah.
Demikianlah. Setelah Allah berikan dunia kepada kita, maka apalagikah yang kita harapkan kecuali akhirat?*
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi November 2005
Dari Orang tua, budaya membaca bermula.
Tradisi membaca yang kurang diminati tentu amat disayangkan. Apalagi kalau mengingat banyak orang sukses di negeri ini memulai kariernya dari kebiasaan membaca. Budaya membaca selayaknya tumbuh dari keluarga, dengan orang tua yang memegang peran utama.
Menumbuhan budaya membaca di Indonesia bukan perkara mudah. Hambatannya antara lain tingkat buta huruf yang tinggi. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad, jumlah perempuan buta aksara sekitar 6,3 juta orang dan 70% di antaranya berusia di atas 45 tahun. Sedangkan jumlah laki-laki buta aksara sekitar 3,4 juta orang. Jika ditotal, jumlah warga buta aksara 9,7 juta atau 5,97% dari jumlah penduduk Indonesia .
Hambatan lainnya, masalah infrastruktur. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau membuat lambatnya distribusi buku bacaan. Sebenarnya hambatan ini tidak begitu significant jika arus informasi melalui internet berjalan efektif.
Menyadari beratnya rintangan dalam pembudayaan membaca, pemerintah tidak tinggal diam. Lihat saja berbagai lomba diadakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sebagai contoh, lomba minat baca, lomba menulis tentang perpustakaan, dan lain-lain. Bahkan pemerintah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi seperti UGM dan menggalakkan pemberantasan buta aksara melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Meskipun demikian tingkat keberhasilan pembudayaan membaca perlu didukung factor utama, yaitu keluarga. Budaya membaca tidak hanya sekedar duduk manis mendengarkan guru di sekolah. Para orang tua pun dapat memberikan contoh dengan meningkatkan intensitas dalam membaca buku, Koran, atau majalah kepada anak-anaknya. Cara lainnya, membuat perpustakaan kecil dalam keluarga.
Sumber : Rumah Pengetahuan Kompas
Menumbuhan budaya membaca di Indonesia bukan perkara mudah. Hambatannya antara lain tingkat buta huruf yang tinggi. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad, jumlah perempuan buta aksara sekitar 6,3 juta orang dan 70% di antaranya berusia di atas 45 tahun. Sedangkan jumlah laki-laki buta aksara sekitar 3,4 juta orang. Jika ditotal, jumlah warga buta aksara 9,7 juta atau 5,97% dari jumlah penduduk Indonesia .
Hambatan lainnya, masalah infrastruktur. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau membuat lambatnya distribusi buku bacaan. Sebenarnya hambatan ini tidak begitu significant jika arus informasi melalui internet berjalan efektif.
Menyadari beratnya rintangan dalam pembudayaan membaca, pemerintah tidak tinggal diam. Lihat saja berbagai lomba diadakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sebagai contoh, lomba minat baca, lomba menulis tentang perpustakaan, dan lain-lain. Bahkan pemerintah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi seperti UGM dan menggalakkan pemberantasan buta aksara melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Meskipun demikian tingkat keberhasilan pembudayaan membaca perlu didukung factor utama, yaitu keluarga. Budaya membaca tidak hanya sekedar duduk manis mendengarkan guru di sekolah. Para orang tua pun dapat memberikan contoh dengan meningkatkan intensitas dalam membaca buku, Koran, atau majalah kepada anak-anaknya. Cara lainnya, membuat perpustakaan kecil dalam keluarga.
Sumber : Rumah Pengetahuan Kompas
Subscribe to:
Posts (Atom)








