Assalamualaikum wr. wb.
Ayah bunda.. ummi abi.. alhamdulillah Mizan selaluuu bawa kabar gembira Yuhuuu.. ... ^_^ PROMO Paket Hemat ILMA+HB yang bulan kemaren diperpanjaaaaaang lagi... hohoho asyyyikkk.. ini dia info selengkapnya...:
1. PROMO PAKET HEMAT Beli I Love My Al Quran + Halo Balita
Harga Normal Rp. 4.530.000 DISKON jd Rp. 3.555.000. udah harganya dipangkas masih dapat tambahan bonus pula yaitu Diary ILMA dan Kumpulan Fuzzel Book Islamic Princess.. waaaah keren banget kan..
ini dia nih bonusnya diary ILMAnya ( mohon maaf untuk rehal stoknya lg kosong, sementara digantikan dengan fuzzle book islamic ^_^....)
2. Beli ENSIKLOPEDIA BOCAH MUSLIM Special DISKON 20% wow.. dapatin jg tambahan bonus Minibooks ...^_^
ini bonusnya
3. Beli Halo Balita Berhadiah kumpulan fuzzle Balita...^_^
ini dia bonusnya..
4. Beli Atlas Budaya Islam Diskon 25%
5. Untuk yg mo gabung di MOP bisa manfaatin promo paket hemat ini dengan menambah pembelanjaan Atlas Budaya Islam Diskon khusus 50 %.
6. Beli Ensiklopedi Muhammad berhadiah Seri Komik Muhammad senilai 150rb Rupiah. Yuk hadirkan sosok Muhammad di rumah kita.:)
7. Beli 10 paket buku seri yang sama GRATIS 1 Paket .. wuiiiih asyyiikkk , kalo yg ini bisa dimanfaatin buat yang punya koperasi atau instansi atau barangkali ada yg mau untuk disumbangkan kembali. ksempatan langka loh ^_^
Yuk ah dipesen bukunya yah sebelum keabisan
oya pesanan paling lambat tgl 30 Mei 2011
untuk pemesanan bisa hub di no 081322263085
atau email : bukuanakcerdas@gmail.com
ditunggu yah ^_^
wassalamualaikum wr. wb
Tuesday, 3 May 2011
Thursday, 28 April 2011
Peran Ibu Menumbuhkan Kecerdasan Anak
Suatu sore, tampaklah seorang ibu, dengan lima orang anaknya, sedang berkumpul di dapur. Mereka mengelilingi sebuah meja dimana diatasnya terdapat 'potongan' kertas dan kotak melukis yang berisi delapan warna dan sebatang kuas. Mereka akan melukis bersama-sama, belajar menggambar bunga.
Di tengah keasyikan dan kegembiraan melukis, tiba-tiba ada nuansa ketidaksenangan dari anak perempuan terkecilnya. "Ada apa, sayangku?", tanya si ibu. "Salah satu kelopak bungaku tampak seperti daun" jawab anak kecil itu, hampir menangis karena kelopak bunganya tidak tampak seperti kelopak bunga. "Biar kulihat", ujar si Ibu. "Oh ya, baiklah. Tambahkan dengan warna hijau. Sekarang, kelopak bunga itu berubah menjadi daun". Tentu saja si anak tidak jadi menangis. Ia tertawa gembira.
Cerita di atas saya cuplik dan tutur ulang dari pengalaman nyata Margo Marshall - Olmstead akan ibunya saat mereka tinggal di Ferryden, sebuah desa nelayan si pesisir timur Skotlandia (Lesson from Mom, 2004).
POTENSI IBU
Briliyan !!!! Hebat !!!!! Luar biasa !!!!!. Itulah yang deretan kata (dan masih banyak lagi yang lainnya) yang pantas kita ucapkan sebagai apresiasi terhadap cara ibu tersebut mengatasi 'masalah' yang dihadapi anak perempuannya. Ia seakan paham betul dengan kata bijak Pablo Picasso, seorang pelukis genius, bahwa 'Setiap bocah adalah seniman. Masalahnya bagaimana cara mempertahankannya agar ia tetap menjadi seniman ketika dewasa'. Itu sebabnya ia berupaya agar anak perempuan terkecilnya tidak patah semangat, sehingga dapat terus mengembangkan potensinya sebagai seniman.
Tindakan yang ia ambil, tidak saja mencerminkan kecerdasan intelektualnya, namun juga menggambarkan kecerdasan emosinya, kemampuannya berempati. Ia memahami betul bila anak perempuannya bukanlah dirinya, yang sudah piawai melukis bunga. Ia mampu membuat anaknya tetap merasa berhasil (menggambar daun), walaupun hal tersebut akibat dari ia gagal menggambar bunga. Ia mengajar anaknya agar bisa mengambil hikmah (dan terobosan) ketika menghadapi sebuah kegagalan.
Si ibu tahu betul bahwa kepada anak harus diajarkan keberanian untuk mencoba kemampuan, kejelian untuk melihat kemungkinan, keyakinan dalam memilih strategi dan kesempatan untuk melaksanakanan strategi pilihannya. Ia juga tahu betul bahwa semua proses itu harus dikenalkan sejak dini, agar proses belajar untuk memecahkan masalah bila memberikan hasil optimum. Ia sadar bahwa semakin banyak contoh cara memecahkan masalah yang ia berikan, akan membuat makin berkembang pula kemampuan anaknya dalam menangani masalah.
Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya bila ketika menghadapi ketidakbisaan anak perempuannya, si ibu berkata "Kamu bodoh, menggambar bunga saja nggak bisa !!!". Atau berkata "Gimana sich kamu ini, membuang-buang kertas dan cat saja". Tentu saja si anak akan merasa gagal. Ia akan kehilangan kepercayaan diri, merasa rendah diri. Dan ini bukan masalah sepele. Karena akan sangat menghambat kemampuannya dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang lain. Tentu kita masih ingat dengan begitu banyaknya kasus bunuh diri di kalangan anak-anak, akibat dari ketidakmampuannya dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah.
Atensi si ibu akan aktivitas melukis dari anak-anaknya juga merupakan hal tepat sebab memang sesungguhnya otak belahan kananlah yang lebih dulu berkembang. Dalam tulisannya yang berjudul Pendidikan Dimulai dari otak Kanan (bagian dari buku Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif, 2001), Salomon Simanungkalit mengungkapkan bahwa perkembangan otak belahan kanan sudah dimulai sejak anak berusia nol tahun. Sedangkan otak belahan kiri umumnya mulai berkembang pada saat anak berumur enam tahun. Dan aktivitas melukis yang mengandalkan kemampuan akan berkhayal, mengasah rasa seni adalah kerja otak kanan.
Otak kanan juga yang bertanggungjawab atas kemampuan mengendalikan emosi. Sehingga sungguh sebuah tindakan luar biasa, yang sangat tepat, ketika sambil melukis bunga, si ibu juga mengajarkan cara mengoper kuas dan cat, sehingga ia dan kelima anaknya mempunyai kesempatan yang sama untuk menggambar. Secara tidak langsung hal ini melatih anak untuk mengendalikan ego masing-masing, menanamkan makna bekerja sama dan berbagi, melatihnya mengandalikan emosi. Artinya menstimulus kecerdasan emosi anak-anaknya.
SELAIN KECEDASAN INTELEKTUALl
Hingga kni masih banyak orang (tua) yang memuja kecerdasan intelektual yang mengandalkan kemampuan berlogika semata. Orang tua merasa bangga dan berhasil mendidik anak, bila melihat anak-anaknya mempunyai nilai rapor yang bagus, menjadi juara kelas. Tentu saja hal ini tidak salah, tetapi tidak juga benar seratus persen. Karena beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spirituallah yang lebih berpengaruh bagi kesuksesan seorang anak.
Hasil penelitian Daniel Goleman (1995 dan 1998) memperlihatkan bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi kontribusi 20 persen terhadap kesuksesan hidup seseorang. Yang 80 persen bergantung pada kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritualnya. Bahkan dalam hal keberhasilan kerja, kecerdasan intelektual hanya berkontribusi empat persen.
Sebuah survei terhadap ratusan perusahaan di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa kemampuan teknis/analisis bukan hal yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin/manajer. Yang terpenting justru kemauan, keuletan mencapai tujuan, kemauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerja sama dan kemampuan memimpin tim.
Hasil identik juga disimpulkan dari penelitian jangka panjang terhadap 95 mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Puluhan tahun kemudian, mereka yang saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual tinggi, namun egois dan kuper, ternyata hidupnya tak terlalu sukses (berdasar gaji, produktivitas, serta status bidang pekerjaan) bila dibandingkan dengan yang kecerdasan intelektualnya biasa saja tetapi mempunyai banyak teman, pandai berkomunikasi, mempunyai empati, tidak temperamental sebagai manifestasi dari tingginya kecerdasan emosi, sosial dan spiritual.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara untuk menumbuhkan kecerdasan emosi, sosial dan spiritual pada anak-anak kita?
KERJA PENGASUHAN
Menurut John Gottman dan Joan DeClaire dalam The Heart of Parenting (Kiat - kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, 1997), cara pembelaja-ran pengetahuan emosional adalah dengan menyadari perasaan anak dan mampu berem-pati, menghibur dan membimbing mereka. Sementara Marsha Sinetar dalam bukunya Spiritual Intelligence (Kecerdasan Spiritual, 2000) mengungkapkan bahwa melalui teladanlah, anak bisa meningkatkan kecerdasan spiritualnya.
Ini artinya, upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual anak tidak bisa sepertihalnya upaya meningkatkan kecerdasan intelektual yang bisa dipacu dengan memasukkan ke sekolah-sekolah favorit (yang umumnya adalah sekolah mahal), atau menjejali anak dengan aneka macam les. Sementara orang tua dituntut menyediakan uang sebanyak mungkin. Yang pada akhirnya kerap dianggap sebagai alasan tepat oleh para ibu untuk ikut mencari uang (umumnya di ruang publik).
Dan hasilnya, setiap tahunnya terjadi kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan, khususnya di sektor informal dibandingkan dengan TPAK laki-laki. Bila pada tahun 1980, prosentase TPAK perempuan 'baru' mencapai 58,1persen, pada tahun 2000 sudah menjadi 70 persen, naik 11,9 persen. Sangat terbuka kemungkinan prosentase ini akan terus meningkat, terlebih saat ini gencar disosialisasikan bahwa agar supaya perempuan mempunyai posisi tawar (terhindar dari aneka bentuk kekerasan) maka ia harus mandiri, termasuk dalam hal ekonomi.
Di sinilah letak permasalahannya. Kondisi ini, dimana kedua orang tua sibuk di ruang publik, akan mereduksi kemungkinan anak bisa meningkatkan kecerdasan emosi, sosial dan spiritualnya. Sebab kecerdasan seperti ini sangat dipengaruhi oleh teladan dan sentuhan personal yang penuh rasa cinta, atensi dan apresiasi. Dalam konteks itulah aktivitas pengasuhan menjadi urgen. Dan pengasuh terbaik bagi seorang anak adalah ibunya. Sebab ibulah, sosok yang paling dikenal oleh anak.
Bukankah mereka (ibu dan anak) pernah mengalami 'hidup bersama' selama sembilan bulan? Bukankah ibu pula sosok yang melalui payudaranya memberinya makan di awal kehidupannya. Jadi tidaklah berlebihan bila ada ikatan yang sangat kuat antara ibu - anak. Belum lagi kondisi natural seorang perempuan yang memang sangat tepat untuk melaksanakan kerja pengasuhan. Kondisi - kondisi ini merupakan modal besar dalam proses pembelajaran emosi, sosial dan spiritual anak. Akankah hal ini disia-siakan? Semestinya tidak…
Saya berharap, peringatan Hari Ibu kali ini dapat menyadarkan kita semua, termasuk juga Pemerintah akan urgensi kerja pengasuhan serta besarnya potensi yang dimiliki oleh para ibu terhadap keberdayaan anak-anaknya. Sebagaimana ungkapan Dorothy Canfield Fisher bahwa "Seorang ibu bukan seorang untuk dijadikan sandaran, tetapi seseorang
Hal - Hal Yang Menakjubkan Pada Bayi
1. Mengendong bayi membuat anda merasa besar, kuat, penting, bertanggungjawab, dan benar benar merasa dibutuhkan.
2. Setiap bayi memiliki mujizat tersendiri.
3. Seorang bayi melihat dunia melalui mata kita, supaya kita dapat menemukan kembali keindahan yang dianggap biasa.
4. Bayi terkenal karena kesabarannya. Mereka akan menunggu dan menunggu dan menunggu sampai akhirnya kita tertidur sebelum dia mulai menangis lagi.
5. Ketika bayi tidak mau berhenti menangis, ingatlah bagaimana senangnya kita mendengar suara tangisnya pertama kali.
6. Beberapa lembar rambut halus di kepala bayi bisa menciptakan keinginan yang tidak tertahankan untuk menghiasinya seperti mengikat pita di sana.
7. Amati saat bayi tidur pada malam hari dan kita akan lupa betapa letihnya kita.
8. Suara tawa bayi adalah obat manjur untuk stress dan suara sendawanya memberikan kepuasan tertinggi.
9. Senyuman seorang bayi bisa membuat kita lupa segala rencana kita dan ketika ingat rencana tersebut rasanya sudah tidak penting lagi.
10. Dikenali seorang bayi bisa terasa lebih hebat dan membanggakan daripada dikenal di seluruh kota bahkan mungkin dunia.
11. Memandikan bayi pertama kali adalah salah satu hal paling berani yang pernah kita lakukan.
12. Anda akan belajar bahasa baru dengan bayi baru. Apakah anda pernah mengira bahwa ciluk-ba bisa menjadi permainan yang begitu hebat?
13. Memasang popok bayi adalah latihan Geometri yang sangat logis.
14. Jangan mengabaikan bakat olahraga bayi anda - melempar makanan melintasi ruangan mungkin menunjukan ia akan menjadi calon pemain basket,memukul mainan keluar dari boksnya bisa menjadi tanda calon juara tenis,merangkak dengan kecepatan tinggi untuk mendorong jambangan kesayangan anda dari meja tamu mungkin berarti dia calon pelari lintas alam. Ini adalah beberapa hal yang perlu dipikirkan ketika kita membersihkan tumpahan dan pecahannya.
15. Tidak ada mulut yang lebih terkatup rapat dari pada mulut bayi ketika kita mencoba memasukan makanan kedalamnya dan tidak ada yang lebih akurat daripada semburan makanan bayi pada kita.
16. Kata pertama dari mulut bayi tidak selalu "Pa Pa" atau "Ma Ma" Jangan merasa tersingung kalau itu "Guk guk" atau "Pus Pus".
17. Seorang bayi bisa membuat Ibu anda mengira bisa mengurusnya lebih baik daripada anda sendiri dan mereka dengan senang hati bersedia dititipi.
18. Seorang bayi akan membuat ayah anda lupa bahasa aslinya.
19. Seorang bayi akan membuat kita memandang diri kita terus menerus secara serius.
20. Bayi sangat pemaaf, mereka senang mendengar kita menyanyi walaupun suara kita sumbang dan mereka akan tertawa mendengar lelucon kita, tidak perduli berapa kali kita mengulanginya.
21. Bayi tidak memerlukan kita menjadi sempurna, mereka hanya perlu kita ada.
22. Bayi bisa membuat anda merindukan waktu untuk diri sendiri, sampai akhirnya waktu itu ada dan anda segera menginginkan bayi anda lagi.
23. Bayi senang pergi ke restaurant tapi mereka tidak ingin makan, mereka lebih suka menyobek kertas tisue, memukuli kue, bermainan sedotan dan menarik perhatian semua orang.
24. Seorang bayi bisa menjadi sangat pemarah. coba saja melepaskan kue dari mulutnya supaya kita bisa memotretnya.
25. Bayi dibungkus dengan semua harapan dan impian kita tapi kita harus melonggarkan bungkusan itu agar mereka punya tempat untuk tumbuh.
26. Apapun yang cocok untuk bayi teman anda tidak akan cocok untuk bayi anda. Tapi setiap bayi sama saja dengan bayi lain mereka tumbuh, merangkak, berjalan dan berbicara pada waktunya sendiri.
27. Tatapan seorang bayi mengingatkan kita bahwa kita punya jiwa dan bayi itu telah menemukannya.
28. Setiap bayi adalah tantangan, tapi bayi anda akan mengeluarkan kemampuan terbaik anda.
29. Seorang bayi akan membuat anda tidak pernah sama. Anda akan selalu mengutamakan bayi anda di atas siapapun, anda akan mengambil lebih sedikit untuk diri sendiri dan memberi lebih banyak pada bayi anda dan anda akan mencoba menjadi orang yang lebih baik untuk memberi contoh baginya.
30. Ketika seorang bayi memasuki kehidupan kita, tiba-tiba anda bisa mengerti dan tahu apa yang telah diberikan orang tua anda dahulu.
Tip & Trik Atasi “Pemberontakan” Anak
“ADEK nggak mau makan, Adek maunya nonton TV...,” rengek Roni (3 tahun) kepada Ibundanya. “Tapi Adek harus makan, nanti kalau Adek nggak mau makan bisa sakit lho! Ayo, Dek makan...” bujuk Bunda. Menghadapi si kecil memang susah-susah gampang, apalagi bila dia tipikal anak yang suka berontak. Apa ya, solusinya?
Karakter Anak
Musti Moms pahami, anak berusia 1 - 3 tahun telah melewati masa-masa yang tidak sebentar. Sejak bayi, faktor genetik (turunan), pola pengasuhan orangtua dan lingkungan sangat memengaruhi terbentuknya karakter anak di kemudian hari.
Salah satunya, apakah dia tipikal anak mudah (easy child) atau sulit (difficult). Bila dia tipikal anak mudah, sekali diberitahu langsung nurut. Sebaliknya, tipikal anak sulit belum tentu menuruti apa keinginan atau nasehat dari orangtuanya. Tidak heran, dalam satu keluarga, tipikal anak satu dengan lainnya berbeda.
Ingin Mandiri
Nah, ketika memasuki usia 1 tahun ke atas anak ingin mencoba menjadi dirinya sendiri, terpisah dari orang-orang sekitarnya termasuk kedua orangtuanya. Bisa dibilang, mereka telah masuk ke tahap perkembangan psikososial atau masa otonomi. Dia ingin beda! Tidak seperti saat masih bayi yang mudah diatur. Jangan heran, bila Moms or Dads mengatakan A, dia menjawab B atau sebaliknya, yang terkadang bikin kesal orangtuanya. Bahkan ada anak yang sangat sulit bila diberitahu oleh orangtuanya. Mungkin ini akibat kedekatan atau 'keintiman' anak dengan Moms or Dads tidak terlalu bagus. Makanya, dia suka uring-uringan. Padahal, usia 1 tahun ke atas adalah masa dimana dia belajar untuk mandiri.
Namun, terbentur masalah unsecure seperti tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya, atau sejak bayi sudah terpisah dari kedua orangtuanya mungkin juga tidak disusui ketika masih bayi bisa dibilang orangtua menjaga jarak dengan bayinya. Sehingga, hubungan anak dengan Moms or Dads menjadi asing alias tidak 'hangat.' Maka, terjadi penolakan anak terhadap Moms or Dads. Biasanya, anak tidak nurut bila diatur atau dinasehati oleh Moms or Dads. Sebaliknya, anak yang sudah merasa nyaman dalam hubungannya dengan kedua orangtuanya, akan lebih mudah dibimbing.
Ingin Menunjukkan Jati Diri
Orangtua juga sebaiknya mengerti bahwa terkadang seorang anak batita bersikap "pemberontak" karena ingin menunjukkan jati dirinya. Kata memberontak ini dalam tanda kutip, karena ia sebenarnya bukan untuk memberontak, hanya ingin membuktikan kemampuannya semata.
Pada usia 3 tahun ke atas, seorang anak sudah mampu melakukan berbagai hal. Ia sudah mampu mengoordinasikan anggota tubuhnya dengan baik, dan mampu mengungkapkan beberapa kalimat.
Oleh karena itu, misalnya bila ia diingatkan untuk tidak mematahkan lipstik Mama, justru dia sengaja mematahkannya. Sikapnya ini, karena dia ingin menunjukkan kemampuannya.
Apalagi, bila ia sudah mempunyai seorang adik. Sikapnya ini menjadi salah satu pembuktian diri bahwa dia telah bisa melakukan lebih banyak dari adiknya yang masih bayi. Dia akan melakukan berbagai hal untuk menunjukkan bahwa dia lebih mampu dibanding adiknya yang masih harus berbaring dan tidur, mengingat orangtua kadang ‘melupakan’ si Kakak, setelah si Adik lahir.
Faktor ingin menunjukkan jati dirinya, utamanya pada orangtua, mungkin salah satu penyebab sikap anak jadi berbeda dibandingkan sikapnya pada orang lain. Sangat disarankan, Moms jangan langsung mencap dia sebagai anak nakal atau pemberontak, karena sikapnya ini hanya sementara dan akan hilang dengan sendirinya, saat ia beranjak besar nantinya.
Harus Bagaimana?
Bila mungkin ada sebagian orangtua yang harus tinggal terpisah dengan buah hatinya, jangan putus asa! Masih ada harapan untuk memperbaiki hubungan atau relasi orangtua dengan anak.
Jauh lebih baik dilakukan sedini mungkin, sebelum si kecil masuk usia sekolah. Langkah pertama, segeralah mengoreksi kekeliruan Moms or Dads sebelumnya. Setelah menyadari kekeliruan yang pernah Moms or Dads lakukan, kedua pahami keadaan anak. Ketiga, Moms or Dads berusaha belajar komunikasi efektif kepada si kecil. Misalnya, si kecil ingin main sepeda dan bilang “aku mau main sepeda di luar” padahal kondisi di luar panas dan sepi.
Begitu mendengar permintaan si kecil ada orangtua yang keukeuh mengatakan, “Ihsan harus tidur!” atau menakut-nakuti dengan mengatakan, “awas lho! Nanti ditangkap polisi!” Padahal ini adalah cara yang tidak benar dan irrasional.
Nah, berikan komunikasi yang efektif kepada si kecil, seperti, “Bunda tahu Ihsan mau main sepeda di luar, sepedanya bagus (Moms bisa mulai mendongeng). Sepedanya bilang, Mas Ihsan bobo dulu ya. Gimana kalau main sepedanya nanti jam 4 sore?”
Pada dasarnya, orangtua mengakui bahwa anaknya memang kepengen main sepeda. Bila ajakan Moms di atas belum bisa membuatnya pergi ke peraduan. Bisa Moms gunakan kalimat seperti, “Gimana kalau kita nonton TV aja yuk, atau Bunda ceritain buku cerita, atau kita perang-perangan di bawah selimut?” So, cara ini menawarkan opsi/ pilihan kegiatan kepada si kecil. Memang, perilaku naik sepeda bukan sesuatu yang salah, hanya bukan pada saat yang tepat. Moms bisa katakan, “Bolehkah nanti jam 4 atau 4.30 sore Bunda nemenin Ihsan main sepeda? Kita main sepeda selama satu jam. Bunda naik sepeda yang besar, sedangkan, Ihsan naik sepeda yang kecil, gimana?”.
Tapi itu semua butuh kesabaran. Bisa saja si anak menawar, “em...em...em...” Apalagi punya anak perempuan yang kemampuan verbalnya sudah lancar seperti mengucapkan, “tapikan...tapikan...tapikan...” Mau tidak mau, Moms memang harus meladeni. Yang perlu diingat, ini semua butuh kesabaran dan waktu yang tidak sebentar.
Tips Mengatasi Anak Manja
Saat anak mulai meninggalkan usia balitanya, terkadang mereka masih saja manja. Bahkan sampai usia tujuh tahun atau mereka sudah memiliki adik, terkadang mereka masih suka merengek seperti adiknya yang masih balita. Anak manja biasanya karena perlakuan orang tuanya yang terlalu berlebihan dalam menuruti semua permintaanya. Apa yang anak minta, orang tua selalu memenuhinya. Akibatnya jika orang tua sampai tidak memenuhi permintaanya maka anak pun merengek dan menangis.
Sifat manja anak juga terjadi dalam hal keinginan untuk selalu dekat dengan orang tua. Tidak jarang anak yang sudah dalam usia sekolah masih selalu berrebut dengan adiknya yang balita untuk mendapatkan belaian dari ibunya.
Nah, apa yang harus dilakukan Anda sebagai orang tua untuk mengatasi anak yang manja?
Sifat manja anak juga terjadi dalam hal keinginan untuk selalu dekat dengan orang tua. Tidak jarang anak yang sudah dalam usia sekolah masih selalu berrebut dengan adiknya yang balita untuk mendapatkan belaian dari ibunya.
Nah, apa yang harus dilakukan Anda sebagai orang tua untuk mengatasi anak yang manja?
- Orang tua harus mempunyai kemauan untuk tidak lagi memanjakan anak. Perilaku manja salah satunya karena selama ini apa saja yang mereka inginkan selalu dituruti.
- Mulailah untuk tidak memanjakan anak dan ajarkan hidup mandiri dari hal-hal yang kecil. Misalnya biasakan anak mengambil baju seragam sendiri, mengambil makan atau minum sendiri.
- Tindakan untuk tidak memanjakan anak seharusnya juga dilakukan oleh orang tua atau pengasuh yang lain, tidak hanya oleh satu orang saja.
- Komunikasilah dengan anak, bahwa seharusnya untuk usia saat ini mulai mempunyai tanggung jawab. Jelaskan mengenai prioritas, bahwa tidak semua yang diinginkan harus terpenuhi.
- Jika anak masih mengabaikan perintah orang tua dengan merengek atau menangis, berikan pengertian bahwa tindakan itu tidak benar. Berikan pelukan dan dukungan untuk menenangkan anak.
- Orang tua harus konsisten untuk tidak memanjakan anak, tidak hanya satu atau dua hari saja lalu kembali menajakan mereka.
- Berikanlah pujian jika anak tidak lagi merengek saat meminta sesuatu, sehingga anak mengerti bahwa orang tua senang saat dia mulai berubah.
Jika anda memiliki pengalaman lain untuk mengatasi anak yang manja, sampaikan untuk disharing dengan teman-teman yang lain dibawah situ. Semoga bermanfaat
Model Kecerdasan Majemuk Anak
Model Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) dikembangkan oleh Howard Gardner. Model ini dapat digunakan untuk mengenali gaya belajar anak sesuai dengan jenis kecerdasan anak yang menonjol.
Anak Visual (spatial).
Anak visual banyak belajar dan menyerap informasi dari apa-apa yang dilihatnya. Mereka sangat menyukai gambar, warna, diagram, dan segala yang terlihat, baik dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi. Anak visual biasanya juga spasial, pandai membayangkan ruang 3 dimensi. Jika bepergian ke suatu tempat, mereka tidak mengingat berdasarkan nama jalan, tetapi bangunan atau simbol yang mereka lihat sebagai penanda visual.
Media dan cara belajar:
menggunakan gambar, diagram, grafik, warna-warni, besar-kecil,
belajar berkhayal secara visual, membayangkan sebuah konsep/informasi dengan: tempat, bentuk, warna,
menggunakan layout, spasial, peta, maket, realitas
mainan: kamera, pensil/spidol warna, balok aneka warna,
ganti kata dengan gambar; bantu pemahaman kata dengan warna
Anak Aural (auditory-musical).
Anak aural menyerap informasi dengan pendengaran; baik suara maupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama, dinamika, tempo, keras-pelan, suara jauh-dekat. Anak aural belajar sambil mendengarkan musik, tidak menyukai “kesunyian”. Mereka senang bersenandung, membuat nada/rima sendiri. Bagi anak aural, bunyi/nada/lagu membawa pada sebuah emosi atau peristiwa tertentu. Walaupun sedang membaca buku, mereka membutuhkan suara/musik untuk menemaninya.
Media dan cara belajar:
menggunakan metode ceramah/kuliah
menggunakan melodi untuk teks; bergumam
membaca dengan suara keras (read aloud)
membangun suasana musikal utk menciptakan suasana
menggunakan media audio visual CD/VCD
mendengarkan kuliah/pidato/radio di rumah dan jalan
Anak Verbal (linguistic).
Anak verbal menyukai kata dan bahasa. Mereka pandai membuat distingsi makna kata, baik secara lisan maupun tulisan. Anak-anak verbal memilih kata, berkata-kata atau menulis secara terstruktur dengan pilihan kata/kalimat yang baik. Mereka sensitif terhadap pilihan kata dan mengingat sebuah tempat/peristiwa/konsep dengan nama dan kata-kata kunci. Anak-anak verbal biasanya senang membaca dan menulis; membuat sajak, puisi, diari, rima, berpidato, dan sebagainya.
Media dan cara belajar:
menggunakan cara yang umum seperti di kelas; buku dan ceramah
melakukan diskusi
membaca dan menulis
bermain peran (role-playing)
Anak Fisik (kinesthetic).
Anak fisik menggunakan anggota badan mereka untuk belajar. Mereka senang mencoba dan melakukan segala sesuatu sendiri (learning by doing). Mereka belajar dengan cara: menyentuh, membangun, memperbaiki, membuat. Mereka seringkali tidak sabar membaca buku petunjuk atau diagram, dan langsung ingin mencoba melakukan sendiri. Anak-anak fisik sensitif terhadap tekstur, cara kerja, dan realitas fisik yang terlihat nyata di hadapannya. Mereka tidak suka berkhayal atau membayangkan.
Media dan cara belajar:
menggunakan pekerjaan tangan, hands-on projects
menulis, menggambar, membuat maket
merakit benda, memperbaiki barang rusak, membuat rancangan
berolahraga dan permainan
aktivitas di luar rumah (outdoor activities)
drama dan permainan peran
balok, robot, mesin, alat-alat olahraga
Anak Logis (mathematical).
Anak logis menggunakan logika, argumen, dan mencari pola keteraturan. Anak logis senang mencari struktur dan pola dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Mereka pandai mencari hubungan, membuat perbandingan, memilah dan membuat klasifikasi. Anak logis senang melakukan pekerjaan mental/berfikir.
Anak logis adalah tipikal anak yang berhasil di model belajar seperti sekolah. Masyarakat saat ini sangat menghargai anak logis.
Media dan cara belajar:
menggunakan buku & teori mengenai berbagai hal
bermain puzzle dan teka-teki
membuat aturan dan prosedur yang jelas
membuat rencana dan jadwal
Anak Sosial (interpersonal).
Anak sosial memiliki kecenderungan untuk bergaul dan berkelompok secara sosial. Mereka supel dan pandai bergaul dengan siapapun, baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua/lebih muda. Orang mendengarkan dan menyukai mereka. Mereka menikmati pertemanan, berbagi cerita atau ilmu dengan orang lain. Anak sosial mendapatkan ilmu dari mendengarkan orang lain atau mencari umpan balik dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya.
Media dan cara belajar:
mengikuti kelompok, klub, organisasi
melakukan proyek yang dikerjakan bersama
berdiskusi dan bermain peran (role-playing)
melakukan kegiatan lapangan yang melibatkan banyak orang
mengikuti seminar atau training dengan sistem kelas
Anak Penyendiri (intrapersonal).
Anak penyendiri memiliki kecenderungan pendiam dan reflektif. Mereka lebih efektif untuk belajar jika seorang diri, bukan dalam kelompok. Anak penyendiri biasanya memiliki kecenderungan untuk mandiri, mengenali kekuatan dan kekurangan pribadi. Anak penyendiri sensitif terhadap pribadi dan kedalaman saat mempelajari atau mengerjakan sesuatu.
Media & cara belajar:
menekuni hobi atau sesuatu yang ditekuni
mengeksplorasi buku atau materi-materi yang bisa dilakukan sendiri
mengerjakan proyek mandiri
membuat jurnal, diari, blog
Mengintip Kecerdasan Anak Sejak Dini
KOMPAS.com - Apakah si Upik yang sudah pandai bicara dan berhitung di usia 2 tahun bisa dibilang anak cerdas? Bagaimana dengan anak yang telah lancar membaca di usia 4 tahun, layakkah disebut cerdas?
Inteligensi yang tinggi seringkali dikaitkan dengan orang yang punya kemampuan secerdas Albert Einstein. Padahal, hingga saat ini belum ada ahli yang bisa merumuskan definisi kecerdasan dengan tepat.
Meski belum ada definisi pasti mengenai kecerdasan, menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, secara umum kecerdasan merupakan kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, dan memecahkan masalah serta melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya.
Apa saja tugas-tugas kognitif tingkat tinggi itu? "Kemampuan berbahasa, daya ingat yang baik, mampu memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis atau menalar," kata psikolog yang akrab disapa Vera ini.
Tentu saja, kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas.
Kecerdasan pada anak bisa dideteksi sejak dini, bahkan sejak ia baru lahir. Untuk mengukurnya, orangtua perlu memahami status perkembangan yang normal pada bayi dan balita. Misalnya saja pada usia 6 bulan, bayi seharusnya mampu belajar duduk dan bisa memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan.
Atau anak usia dua tahun seharusnya sudah mulai berkomunikasi dengan kata-kata, serta penuh rasa ingin tahu. "Orangtua harus peka dan bisa mendeteksi sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya. Kalau ada keterlambatan, langsung diwaspadai apakah tumbuh kembangnya terhambat atau memang orangtua kurang menstimulasi," kata Vera.
Sebagai pedoman, ada beberapa tahap perkembangan yang dianggap normal dalam arti sudah bisa dikuasai oleh anak pada usia tertentu.
0-3 bulan:
Hanya menampilkan respons refleks atas stimulus. Bahasa yang dikuasai hanyalah berupa tangisan.
4 bulan:
Mulai memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri dan menunjukkan awal mula kemampuan motorik halus. Mulai mampu merespons secara sosial dengan senyuman dan bunyi-bunyian.
6 bulan:
Mulai belajar duduk dan merangkak. Sudah memiliki kemampuan mengontrol gerakan tangan sehingga mampu memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. Bahkan sudah memiliki kemampuan koordinasi mata dan tangan untuk menggapai benda.
9 bulan:
Sudah mulai mampu menggunakna jari jemarinya untuk makan sendiri. Mulai mencoba merangkak dan berdiri. Mencoba menggunakan kata atau suku kata sederhana.
12 bulan (tahun pertama):
Terlihat perkembangan yang cukup pesat pada anak dan ia mulai menunjukkan kemampuan menguasai berbagai hal.
Tahun ke-2:
Mulai independent, senang mengeksplorasi, penuh rasa ingin tahu, mencoba berbagai kemampuan baru, berkomunikasi dengan kata-kata, mencoba memahami sebab-akibat melalui kemampuan motorik, dan menguasai proses belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Tahun ke-3:
Anak sudah menunjukkan penguasaan yang jauh lebih baik pada berbagai alat untuk belajar, seperti bahasa, ingatan, kemampuan motor, dan perasaan tentang dirinya sendiri.
Tahun ke-4 dan ke-5:
Kemampuan belajar anak jauh lebih berkembang sehingga memungkinkan ia menerima proses belajar secara formal.
Inteligensi yang tinggi seringkali dikaitkan dengan orang yang punya kemampuan secerdas Albert Einstein. Padahal, hingga saat ini belum ada ahli yang bisa merumuskan definisi kecerdasan dengan tepat.
Meski belum ada definisi pasti mengenai kecerdasan, menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, secara umum kecerdasan merupakan kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, dan memecahkan masalah serta melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya.
Apa saja tugas-tugas kognitif tingkat tinggi itu? "Kemampuan berbahasa, daya ingat yang baik, mampu memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis atau menalar," kata psikolog yang akrab disapa Vera ini.
Tentu saja, kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas.
Kecerdasan pada anak bisa dideteksi sejak dini, bahkan sejak ia baru lahir. Untuk mengukurnya, orangtua perlu memahami status perkembangan yang normal pada bayi dan balita. Misalnya saja pada usia 6 bulan, bayi seharusnya mampu belajar duduk dan bisa memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan.
Atau anak usia dua tahun seharusnya sudah mulai berkomunikasi dengan kata-kata, serta penuh rasa ingin tahu. "Orangtua harus peka dan bisa mendeteksi sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya. Kalau ada keterlambatan, langsung diwaspadai apakah tumbuh kembangnya terhambat atau memang orangtua kurang menstimulasi," kata Vera.
Sebagai pedoman, ada beberapa tahap perkembangan yang dianggap normal dalam arti sudah bisa dikuasai oleh anak pada usia tertentu.
0-3 bulan:
Hanya menampilkan respons refleks atas stimulus. Bahasa yang dikuasai hanyalah berupa tangisan.
4 bulan:
Mulai memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri dan menunjukkan awal mula kemampuan motorik halus. Mulai mampu merespons secara sosial dengan senyuman dan bunyi-bunyian.
6 bulan:
Mulai belajar duduk dan merangkak. Sudah memiliki kemampuan mengontrol gerakan tangan sehingga mampu memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. Bahkan sudah memiliki kemampuan koordinasi mata dan tangan untuk menggapai benda.
9 bulan:
Sudah mulai mampu menggunakna jari jemarinya untuk makan sendiri. Mulai mencoba merangkak dan berdiri. Mencoba menggunakan kata atau suku kata sederhana.
12 bulan (tahun pertama):
Terlihat perkembangan yang cukup pesat pada anak dan ia mulai menunjukkan kemampuan menguasai berbagai hal.
Tahun ke-2:
Mulai independent, senang mengeksplorasi, penuh rasa ingin tahu, mencoba berbagai kemampuan baru, berkomunikasi dengan kata-kata, mencoba memahami sebab-akibat melalui kemampuan motorik, dan menguasai proses belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Tahun ke-3:
Anak sudah menunjukkan penguasaan yang jauh lebih baik pada berbagai alat untuk belajar, seperti bahasa, ingatan, kemampuan motor, dan perasaan tentang dirinya sendiri.
Tahun ke-4 dan ke-5:
Kemampuan belajar anak jauh lebih berkembang sehingga memungkinkan ia menerima proses belajar secara formal.
Subscribe to:
Posts (Atom)





